Hari ke-23 puasa, saya seperti biasa main ke rumah Mbah Par di pagi hari. Nggak ada agenda khusus, cuma sekadar silaturahmi dan ngobrol sebentar. Rasanya bulan Ramadan ini lebih sering main ke rumah Mbah Par, mungkin karena suasananya lebih adem dan selalu ada sesuatu yang bisa dibahas.

Sorenya, seperti sudah jadi kebiasaan, Om Sabar datang mengantar lauk. Kali ini menunya cukup menggugah selera: lele goreng yang renyah, sayur lodeh yang gurih, dan keripik udang yang kriuk-kriuk. Selain lauk, Om Sabar juga bawain bubur sumsum dan kacang hijau, jumlahnya nggak tanggung-tanggung—enam cup! Jelas ini kebanyakan, dan nggak mungkin kami habiskan sekaligus. Akhirnya beberapa disimpan di kulkas buat camilan nanti.

Setelah berbuka dan beres-beres sebentar, saya, istri, dan bocil memutuskan untuk main ke rumah Mas Barep, kakaknya istri, di Petarukan. Jalan ke sana benar-benar menyedihkan. Banyak lubang di mana-mana, bikin perjalanan terasa nggak nyaman. Saya harus ekstra hati-hati mengendarai motor supaya nggak terlalu terguncang. Bocil yang awalnya antusias malah jadi agak manyun gara-gara jalanannya jelek, tapi untungnya nggak sampai rewel.

Begitu sampai di rumah Mas Barep, bocil langsung berbinar-binar karena pengen main sama Mbak Fia. Awalnya masih malu-malu, cuma nempel di saya dan ibunya. Tapi setelah beberapa menit adaptasi, akhirnya dia mulai terbiasa dan bermain dengan bahagia. Suasana rumah Mas Barep juga cukup ramai dan hangat, jadi anak-anak gampang berbaur.

Saat mau pulang, ternyata ada kejutan: Mbak Fia pengen ikut nginep di rumah. Bocil makin senang karena berarti punya teman main semalaman. Jadilah kami pulang berempat malam itu. Sampai rumah, bocil dan Mbak Fia masih asyik bercanda sebelum akhirnya mulai mengantuk. Saya sendiri juga udah capek, dan begitu kepala menyentuh bantal, langsung nyaris ketiduran. Hari yang cukup panjang, tapi menyenangkan.