Jika dibandingkan dengan kota Pekalongan dan kota Tegal yang merupakan tetangga kanan kiri kota Pemalang, tempat aku tinggal, Kota Pemalang jelas tertinggal sangat jauh. Pembangunannya belum terlalu merata, satu-satunya mall yang berdiri hanya setinggi tiga lantai. 


Tempat-tempat hits seperti KFC, McD, J.CO atau Gramedia, toko buku paling populer di Indonesia tidak ada yang mau mencoba peruntungannya di kota ini. Sebagai kota kecil yang sederhana dan tidak terlalu padat penduduknya, serta jarak tempuh yang nggak jauh-jauh amat di wilayah perkotaan, masyarakat di sini memang lebih memilih menggunakan sepeda motor milik pribadi dibanding naik delman atau angkutan umum.


Aku jadi ingat waktu masih SMA dulu, keluarga hanya punya satu motor dan itu dipakai bapak buat kerja. Jadinya setiap hari aku berangkat ke sekolah naik angkutan umum, aku harus berangkat lebih pagi buat berdiri di pinggir jalan nunggu angkutan lewat karena kedatangannya nggak bisa diprediksi, kadang angkutan udah datang aku harus mengurungkan niat untuk naik karena ternyata di dalamnya udah penuh. Kadang aku juga milih menunda naik kalau ada angkutan yang datang tapi belum ada penumpang satu pun di dalamnya. Aku yakin, angkutan ini pasti lebih banyak berhentinya nunggu penumpang dibanding langsung jalan.


Begitu juga ketika pulang sekolah, disaat teman-teman lain pulang tinggal ngegas motornya keluar sekolah, aku masih harus berdiri di pinggir jalan buat nungguin angkutan lagi. Gara-gara ini aku sering terlambat sampai rumah sekitar satu dua jam kemudian, karena ya.. itu, setelah berhasil naik, kadang angkutan ini mesti berhenti cukup lama di beberapa titik buat nungguin penumpang.


Beruntungnya, memasuki kelas 3 SMA, bapak dapat motor inventaris dari kantor, akhirnya aku bisa menggunakan motor yang sebelumnya dipakai bapak buat kerja. Motorku waktu itu adalah Yamaha Vega R warna oranye tahun 2001. Dan memang setelah itu, rasanya hidup jadi lebih menyenangkan. Berangkat sekolah tinggal ngeluarin motor dari dalam rumah, kalau ada acara nongkrong sepulang sekolah bareng temen lainnya aku nggak perlu bingung cari boncengan temen yang masih kosong. Dan yang paling penting adalah aku jadi lebih pede buat ngajakin gebetan pulang bareng. Hehe…




Sejak saat itu, motor Yamaha Vega R ini menemaniku sampai kuliah selama empat semester di kota Semarang. Berkat motor ini, perjalananku dari Pemalang ke Semarang bisa ditempuh kapan saja, nggak perlu nunggu waktu keberangkatan sesuai jadwal kereta api misalnya, atau mesti nunggu di terminal, beli tiket, lalu naik bus umum.


Perjalanan dari Pemalang ke Semarang biasanya  kutempuh selama tiga jam. Aku bisa berhenti untuk istirahat sebentar semauku. Semisal mendadak kebelet pipis pun, Aku hanya perlu mencari pom bensin terdekat. Beda dengan naik bus, kalau kebelet pipis atau mendadak mules, mau nggak aku harus pasrah dan berpikiran positif kalau aku bisa menahan cobaan ini.


Hal paling penting lainnya tentu saja, naik motor jauh lebih irit. Jika naik bus aku harus mengeluarkan uang sekitar tiga puluh ribu rupiah sekali jalan, belum ditambah naik ojek ke tempat kosku sekitar lima belas ribu rupiah. Kalau naik motor, Aku hanya perlu mengisi bahan bakar dua puluh ribu rupiah, itu sudah cukup untuk sampai di kos saya, bahkan masih tersisa lumayan dipakai untuk beberapa hari bolak-balik ke kampus.


Memasuki semester empat sampai lulus kuliah, ibu dapat rejeki dan bisa ngasih motor baru buatku. Honda Vario Techno 110 cc warna merah. Motor matic ini jauh lebih nyaman digunakan karena sudah tidak perlu lagi memasukkan gigi setiap menambah atau mengurangi kecepatan. 


Masyarakat di kota Pemalang banyak yang lebih memilh menggunakan sepeda motor dibanding transportasi umum karena kemudahannya. Sebenarnya wajar sih, motor jadi favorit di kota ini karena memang sepraktis itu. Ibarat Hawa diciptakan untuk Adam. Mungkin motor memang sengaja diciptakan untuk kota Pemalang.


Banyak alasan kenapa aku dan masyarakat kota Pemalang lebih suka naik kendaraan bermotor, tapi intinya, lebih efisien dan praktis--tinggal ngeluarin motor dari teras rumah, duduk di jok, memutar kunci motor, pakai helm, bisa langsung wuuuss ke tempat yang dituju.


Kalau diamati, hampir setiap rumah di kota ini pasti memiliki sepeda motor, bahkan banyak yang memiliki lebih dari satu kendaraan bermotor. Aku sendiri memiliki dua motor di rumah, masing-masing untukku dan istri. Semuanya motor matic, karena lebih mudah dipakai, tidak perlu khawatir ada kejadian motor tiba-tiba menggerung keras karena salah masukin gigi.


Cuma motor yang bisa membuatku pagi-pagi beli sarapan tinggal bilang sama mbak penjualnya, nggak perlu mesti turun dari motor segala. Kalau pulang sekolah, aku mampir buat beli jajanan pinggir jalan semacam seblak atau es boba, motor juga bisa jadi tempat duduk yang nyaman karena beberapa kursi penjualnya udah penuh diduduki pembeli lainnya. Walaupun ya… tetep aja sih ada masanya aku harus turun dari jok motor, kalau lagi isi bahan bakar misalnya.


Motor juga jadi andalanku tiap ngajak istri sama anak menikmati hari Minggu. Pagi-pagi bertiga keluar rumah, naik motor dengan kecepatan rendah, menikmati udara pagi bersama sambil menikmati pemandangan di sepanjang jalan, mengomentari hal-hal remeh yang kami lihat. Meskipun kalau ngobrol biasanya mesti diselingi dengan “hah” berkali-kali karena nggak denger istri ngomong apaan, suaranya kebawa sama angin.


***


Menjadi guru di sebuah desa kecil, yang cukup jauh dari perkotaaan membuatku benar-benar mengandalkan sepeda motor. Misal ketika aku harus mengumpulkan berkas ke dinas pendidikan yang ada di kota, rapat dengan guru di sekolah lain, atau hal-hal sederhana seperti misal mengantar pulang anak di sekolah yang badannya panas.


Cara mendapatkan motor zaman sekarang juga mudah banget, banyak perusahaan keuangan yang menawarkan kredit motor dengan DP atau uang muka yang sangat terjangkau. Bayangin aja, cuma dengan DP lima ratus ribu rupiah, motor sudah bisa diantar ke rumah, selanjutnya tinggal dicicil sesuai kemampuan. Ada yang tiga sampai empat tahun.


Selain itu, motor juga perawatannya murah. Punya motor tuh, palingan rutin diisi bahan bakar aja. Perkara ganti oli dan servis motor biasanya dilakukan kalau lagi ingat aja. Atau kalau ada onderdil yang butuh diganti. Selebihnya, kalau motor masih terlihat baik-baik saja, distarter masih bisa nyala berarti masih aman dipakai.


Nah… jika melihat jalan utama di kota Pemalang, sangat jarang sekali ada pertokoan yang menyediakan parkiran luas untuk mobil. Rata-rata parkirannya hanya di depan toko, menyatu dengan jalan utama. Pernah, waktu itu aku ikut kakakku belanja naik mobilnya, Mitsubishi Pajero Sport ke sebuah Toserba. Bukannya praktis malah jadi ribet karena mesti muter beberapa kali buat nyari tempat parkir yang benar-benar muat.


Ya... jangankan naik Pajero Sport sih, Waktu aku sama istri mau belanja di toko peralatan rumah tangga yang letaknya ada di depan Toserba, aku naik mobil Toyota Agya, yang bisa juga disebut dengan ‘city car’ karena mobilnya cukup kecil, kenyataannya.. aku masih kesulitan buat mencari tempat parkir karena memang benar-benar tidak ada tempat khusus untuk parkir mobil, hanya ada satu baris di depan toko dan itu sudah diisi puluhan sepeda motor. Kalau mau dipaksakan pun, itu mesti parkir di belakang sepeda motor, yang akan memakan separuh jalan utama. Kalaupun dapat tempat parkir, lokasinya malah jauh dari toko tujuan dan mesti jalan kaki dulu.


Meskipun praktis dan irit, tetap saja ada beberapa masalah yang harus aku hadapi saat naik motor ke Semarang. Hujan deras misalnya, walaupun sudah pakai jas hujan. Kadang kalau hujannya sangat deras, jarak pandang jadi sangat terbatas. Motor sewaktu-waktu bisa kena lubang di jalanan yang kalau apes bisa bikin velg bengkok. Masalah lainnya adalah kalau lagi apes, ban motor bisa sewaktu-waktu bocor. Lebih apesnya lagi, nggak ada tukang tambal ban pinggir jalan yang dekat. Mau nggak mau, ya... harus jalan sambil mendorong motor sampai ketemu tukang tambal ban.


Dari sekian kemudahan yang dimiliki para pengguna motor di kota Pemalang, ada juga hal konyol yang sering terlihat. Salah satunya adalah, banyak pengguna motor ketika musim hujan sering berteduh di pinggir pertokoan nunggu hujan reda. Kenapa konyol? Ya karena harusnya mereka tahu, di Indonesia hanya ada dua musim, panas dan hujan. Ketika musim hujan datang, harusnya mereka udah persiapan untuk membawa jas hujan di dalam jok motornya. 



Lagipula, musim hujan kan bukan pertama kalinya datang di kota Pemalang. Harusnya para pengendera bermotor sudah tahu, kalau nggak pengen perjalanannya terhambat, ya berhenti pakai jas hujan. Sayangnya, mereka lebih memilih berhenti buat berteduh nunggu hujan berhenti karena nggak bawa jas hujan atau malah mereka nggak punya? Makanya sering ada celetukan, “Orang-orang aneh ya, pada mampu beli motor, tapi nggak mampu beli jas hujan.”


Itu sebabnya aku selalu memastikan ketersediaan jas hujan di dalam jok motor saat musim hujan. Aku juga biasanya suka membawa handuk kecil untuk mengelap beberapa bagian tubuh yang basah, karena biasanya meskipun sudah memakai jas hujan, biasanya air masih bisa merembes masuk ke celah jas hujan.


Dengan segala kemudahan yang dimiliki kendaraan bermotor, nggak heran kalau banyak anak SMA yang banyak memakai motor buat berangkat ke sekolah. Mungkin suatu saat, kalau anakku sudah masuk masa SMA, aku bisa juga memberi kepercayaan untuk menggunakan motor buat fasilitas berangkat ke sekolah sepaket dengan jas hujan di dalam jok motor. Tentu saja, setelah anakku juga sudah memiliki Surat Izin Mengemudi.