Rasanya sudah lama sekali aku tidak membaca buku. Padahal biasanya hampir setiap bulan, aku pasti menyempatkan diri untuk membeli buku yang sebagian besarnya ya untuk ditimbun, hanya beberapa yang dibaca. Tapi kan setidaknya hari-hariku masih berhubungan dengan buku-buku.



Tahun ini rasanya beda sekali, sejak awal tahun hingga bulan September kemarin, hampir tidak ada satu pun buku yang menarik perhatian. Walaupun itu buku horror, buku genre favoritku. Melihat tumpukan buku yang belum terbaca di rak buku pun nggak memunculkan keinginan untuk ngambil satu dan duduk menikmati membacanya.


Aku pikir, kesenanganku terhadap buku sudah mulai memudar. Tidak lagi seperti dulu yang bahkan nggak bisa sedikit saja ngeliat buku bagus berseliweran di beranda Facebook. Berteman dengan banyak penjual buku memang menyenangkan, bisa tahu banyak judul buku yang ternyata ‘selama ini ada’. Nggak enaknya ya itu, bikin kantong mudah jebul karena jiwa membeli bukuku jadi menggebu-gebu.


Dulu hampir setiap hari, sebagian besar waktuku, kuhabiskan untuk scroll beranda Facebook. Melihat postingan para penjual buku yang berseliweran, ada yang bagus dikit. Jari-jari ini otomatis ngetik ‘mau’ di postingannya.


Hal ini seolah menjadi sebuah ‘candu’ bagiku. Keinginan ngoleksi buku sebanyak-banyaknya seolah bertemu dengan jalannya. Para penjual buku di Facebook. Hampir setiap ada waktu luang, yang aku buka adalah Facebook dan scroll-scroll beranda terus-menerus.


Rasanya seolah ada kepuasan tersendiri ketika aku berhasil mendapatkan buku lebih cepat dari orang lain yang juga menginginkan buku itu di postingan para penjual Facebook.


Sebenarnya aku juga berpikir kalau hal ini nggak bisa dibiarkan terus-menerus. Membeli buku-buku yang sebenarnya bukan genre yang kusukai. Namun, ketika tahu buku ini adalah buku yang banyak diburu oleh orang-orang pecinta buku lainnya. Jiwa bersaingku ikut berpartisipasi.


Padahal yang menurut orang lain bagus, belum tentu menurutku bagus juga buat dibaca. Semakin lama aku sadar kalau kegiatan ini sudah mulai nggak sehat. Terus menerus membeli buku tapi kemampuan menyelesaikan membaca bukunya sangat rendah.


Setiap membeli buku, aku selalu berpikir, “Yang penting beli saja dulu, nanti juga ada momennya buat membaca bukunya.”


Kenyatannya, semakin banyak buku yang terbeli, yang terbaca palingan hanya satu dua buku. Sisanya masih menumpuk di ruang baca tanpa tahu kapan mau dibaca.


Jujur awalnya sulit sekali untuk bisa lepas dari aktivitas berburu buku di Facebook. Aku harus mencoba menahan diri untuk tidak menyentuh aplikasi Facebook di smartphone. Awalnya memang berat, mirip seperti orang kecanduan. Keinginan ngeliat postingan orang jualan di Facebook sering menggebu-gebu, tapi aku coba untuk menyibukkan diri dengan hal-hal lainnya.


Perlahan, keinginan yang menggebu-gebu itu semakin hari semakin meredup. Sampai pada akhirnya aku benar-benar bisa meninggalkan kebiasan itu. Iya, benar-benar kutinggalkan. Bahkan akun Facebook-ku yang isinya akun penjual buku itu sudah berhasil ku-log out tanpa ada keinginan lagi untuk membukanya.


Sekarang, setiap melihat buku-buku yang menumpuk di ruangan. Aku jadi mikir, “kok bisa-bisanya dulu aku beli buku ini. Buat apaan?”


Karena mungkin sudah jenuh juga sama dunia perbukuan, buku-buku yang menurut orang lain populer dan menurutku 'buat apa buku ini aku beli?' Aku coba jualin satu per satu di Facebook, kali ini aku membuat akun baru khusus untuk jualan buku di Facebook. Aku bergabung ke grup jual beli komik, buku, majalah sebanyak-banyaknya.


Walaupun tidak semuanya bisa terjual lagi, tapi setidaknya lumayan banyak juga yang terjual. Rak bukuku mulai terlihat ‘normal’ tidak penuh sesak lagi.


Memasuki bulan Oktober ini, minat membacaku sepertinya mulai tumbuh lagi. Aku berhasil menyelesaikan beberapa novel horror yang sempat terbengkalai di rak buku. Aku juga membeli beberapa novel horror yang memang sengaja ingin aku baca. Bukan untuk aku tumpuk. Hebatnya adalah, buku yang sengaja aku beli itu, berhasil aku selesaikan.