Hari kedua puasa, saya dan istri sepakat untuk masak sendiri di rumah. Biar nggak perlu repot berburu menu buka puasa di jalan seperti kemarin. Pagi-pagi, kami berangkat ke pasar buat belanja bahan makanan.


Sampai di pasar, istri langsung masuk buat belanja, sementara saya dan anak menunggu di parkiran mobil. Sebenarnya pengin ikut lihat-lihat, tapi suasana pasar yang ramai dan udara pagi yang mulai hangat bikin saya memilih duduk santai saja. Anak saya sibuk memperhatikan orang-orang berlalu-lalang, sesekali bertanya tentang ini-itu.




Pulang dari pasar, anak tiba-tiba minta dibelikan mainan kapal otok-otok. Mainan sederhana dari seng yang bisa bergerak di air kalau dinyalakan dengan lilin kecil. Jadi teringat masa kecil, waktu kapal otok-otok ini masih sering dimainkan.


Siang harinya, di rumah, saya ikut bantu istri di dapur. Kerjaan saya nggak banyak, cuma ngupas kulit udang. Meski tangan lemes dan mata agak mengantuk, setidaknya tetap berkontribusi untuk menu buka puasa nanti.


Sore tiba, akhirnya waktu berbuka pun semakin dekat. Menu hari ini sederhana, tapi lebih dari cukup untuk mengisi energi setelah seharian berpuasa: sayur bening yang segar, pecak tempe rebus dengan sambal yang pedasnya pas, dan es teh manis buatan sendiri yang dinginnya pas di tenggorokan.


Hari ini terasa lebih ringan dibanding kemarin. Mungkin karena sudah mulai terbiasa. Dan yang paling penting, bisa berbuka dengan makanan hasil masakan sendiri di rumah, lebih tenang, lebih hemat, dan tentu saja lebih puas!