Hari pertama puasa tahun ini anak-anak sekolah libur, artinya guru juga bisa lebih santai. Harusnya bisa dimanfaatkan buat kegiatan produktif, tapi sejak pagi badan rasanya nggak enak. Entah karena kurang tidur semalam atau efek adaptasi awal puasa, kepala sedikit berat dan tubuh terasa lemas. Akhirnya, sebagian besar hari dihabiskan dengan rebahan, pindah dari tempat tidur ke sofa, lalu balik lagi ke kamar.
Siang terasa panjang, tapi entah kenapa juga cepat berlalu. Sesekali main sama anak, ngobrol dengan istri, lalu kembali berbaring. Niat baca buku atau nonton sesuatu batal karena mata lebih sering terpejam.
Menjelang sore, perut mulai terasa lebih nyaman, meski tenaga masih belum sepenuhnya balik. Akhirnya, memutuskan untuk keluar cari lauk buat buka puasa. Naik mobil bareng istri dan anak, menikmati jalanan yang mulai ramai. Suasana khas Ramadan langsung terasa—di pinggir jalan, pedagang takjil berjejer, menawarkan aneka gorengan, kolak, es buah, hingga berbagai menu buka puasa lainnya.
Banyak orang lalu-lalang, ada yang berburu takjil, ada yang hanya sekadar menikmati sore. Aroma makanan dari berbagai lapak bercampur di udara, menggoda perut yang seharian kosong. Setelah berkeliling sebentar, akhirnya kami memilih beberapa lauk dan takjil favorit. Pulang dengan kantong belanjaan di tangan, siap menyambut azan maghrib.
Meski hari pertama puasa ini lebih banyak dihabiskan dengan rebahan, tetap ada rasa syukur bisa menjalani hari bersama keluarga. Ramadan selalu membawa suasana yang berbeda, dan meski sederhana, setiap momennya selalu terasa istimewa.


.jpeg)

.jpeg)

Social Plugin